KARAWANG | ZONAINDUSTRI.COM — Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Karawang mengembangkan kawasan Laskar farm sebagai pusat pembinaan warga binaan yang mengintegrasikan sektor pertanian, peternakan, dan perikanan. Program ini diarahkan untuk mendukung kebijakan ketahanan pangan nasional sekaligus membekali warga binaan dengan keterampilan kerja yang dapat dimanfaatkan setelah menyelesaikan masa pidana.
Ketua Ikatan Wartawan Online Indonesia (IWOI) Kabupaten Karawang sekaligus Founder aplikasi GOKAR Karawang, Syuhada Wisastra, mengapresiasi langkah Lapas Karawang dalam mengembangkan program tersebut. Menurut dia, Starfarm menjadi inovasi pembinaan yang tidak hanya berorientasi pada produksi pangan, tetapi juga membangun kemandirian warga binaan.

“Program Starfarm merupakan terobosan yang patut diapresiasi. Lapas Karawang berhasil menghadirkan konsep pembinaan yang produktif melalui sektor pertanian, peternakan, dan budidaya ikan. Ini bukan hanya mendukung program ketahanan pangan pemerintah, tetapi juga memberikan bekal nyata bagi warga binaan agar memiliki keterampilan dan mampu mandiri setelah bebas,” kata Syuhada saat menghadiri pemaparan program ketahanan pangan di kawasan Starfarm, yang dihadiri Kepala Lapas Karawang beserta jajaran serta pengurus dan anggota IWOI Kabupaten Karawang.
Kepala Lapas Kelas IIA Karawang menjelaskan, Starfarm merupakan unit pembinaan yang berfokus pada pengembangan pertanian, peternakan, dan perikanan. Program tersebut, kata dia, menjadi bagian dari upaya mendukung program ketahanan pangan nasional sekaligus mewujudkan pembinaan berbasis kemandirian.

“Kami memiliki jargon dari pembinaan menuju kemandirian. Harapannya, setelah bebas mereka memiliki keterampilan dan mampu bekerja ataupun membuka usaha sendiri di bidang pertanian, peternakan, maupun perikanan,” ujarnya.
Sebagai bagian dari program itu, Lapas Karawang mengelola lahan pertanian seluas sekitar satu hektare yang ditanami padi. Panen perdana ditargetkan berlangsung dalam empat bulan mendatang. Selain padi, lahan tersebut juga dimanfaatkan untuk menanam jagung dan singkong.
Menurut Kepala Lapas, tanaman singkong tidak hanya dimanfaatkan hasil umbinya, tetapi juga daunnya akan digunakan sebagai pakan ternak sapi dan ayam. Skema tersebut diharapkan mampu menekan biaya produksi sekaligus menciptakan sistem usaha yang lebih mandiri.
Di sektor peternakan, Lapas Karawang saat ini memelihara sekitar 1.000 ekor ayam kampung unggul melalui kerja sama dengan investor menggunakan pola bagi hasil. Model kemitraan itu dipilih karena keterbatasan anggaran yang dimiliki lembaga.
Selain ayam, Lapas juga mengembangkan peternakan domba yang modal awalnya berasal dari hasil kegiatan perkebunan di lingkungan lapas. Pengembangan tersebut diproyeksikan untuk memenuhi kebutuhan pasar, termasuk permintaan hewan kurban pada Hari Raya Iduladha dan kebutuhan akikah.
Pihak Lapas juga mengaku telah menjalin komunikasi dengan calon mitra dari Singapura yang berpotensi membeli domba untuk memenuhi kebutuhan hewan kurban masyarakat Muslim di negara tersebut apabila populasi ternak terus meningkat.
Pada sektor perikanan, Lapas Karawang membudidayakan sekitar 20 ribu ekor ikan nila Nirwana yang diperkirakan siap dipanen dalam tiga bulan. Selain itu, terdapat kolam budidaya lele dan sejumlah kolam ikan lainnya yang seluruh proses pengelolaannya melibatkan warga binaan sebagai bagian dari program pembinaan.
Ke depan, kawasan Starfarm tidak hanya difungsikan sebagai pusat produksi pangan. Lapas Karawang juga berencana mengembangkan kawasan tersebut menjadi destinasi wisata edukasi melalui penyediaan kolam pemancingan yang dapat diakses masyarakat.
“Kami ingin menghadirkan aktivitas positif yang melibatkan masyarakat. Harapannya, Starfarm menjadi pusat pembinaan warga binaan sekaligus kawasan ketahanan pangan yang produktif, berkelanjutan, dan memberi manfaat bagi masyarakat luas,” kata Kepala Lapas.
Penulis: jun@






