KARAWANG — Kesadaran terhadap pentingnya pertanian berbasis iklim mulai tumbuh di kalangan petani muda Kabupaten Karawang. Hal itu terlihat saat dua petani milenial Karawang mengikuti kunjungan edukasi ke PPTPI (Perkumpulan Petani Tanggap Perubahan Iklim) di Kabupaten Sumedang pada Kamis, 21 Mei 2026.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari pembelajaran petani cerdas iklim guna menghadapi ancaman perubahan cuaca ekstrem seperti El Nino dan La Nina yang berdampak langsung terhadap produktivitas pertanian.
Sesampainya di lokasi sekitar pukul 10.00 WIB, rombongan disambut langsung oleh Ketua PPTPI Sumedang, Bapak Nandang SP, bersama Profesor Yunita dari bidang Agrometeorologi Universitas Indonesia. Dalam pemaparannya, dijelaskan bagaimana petani dapat memanfaatkan metode agrometeorologi untuk membaca potensi curah hujan, pola musim, hingga menentukan varietas tanaman yang sesuai dengan kondisi iklim beberapa bulan ke depan.
Menurut Profesor Yunita, sistem tersebut memang tidak menjamin prediksi secara mutlak, namun terbukti sangat membantu petani dalam mengambil keputusan tanam. Program tersebut bahkan sudah berjalan lebih dari tujuh tahun di Sumedang dan dinilai cukup efektif karena terus dikolaborasikan dengan data BMKG setempat.
Selain melibatkan akademisi dari Indonesia, program tersebut juga mendapat dukungan dari peneliti internasional di bidang perubahan iklim pertanian, termasuk Profesor Subwalker dari Afrika.
Salah satu peserta asal Karawang, Nur, mengatakan bahwa ilmu yang diperoleh sangat penting diterapkan di daerahnya. Ia menilai kondisi cuaca yang semakin sulit diprediksi membuat petani harus mulai beradaptasi dengan teknologi dan metode pertanian modern.
“Sekarang cuaca sulit ditebak. Kadang hujan terus, kadang panas panjang. Kalau petani tidak bisa membaca iklim, risiko gagal panen semakin besar. Karena itu, petani harus mulai belajar memahami perubahan cuaca,” ujarnya.
Nur berharap Pemerintah Kabupaten Karawang melalui Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan, dan Perikanan dapat mendukung lahirnya PPTPI di Karawang sebagai wadah edukasi petani tanggap perubahan iklim.
Menurutnya, keberadaan PPTPI akan sangat membantu petani dalam menentukan pola tanam, memilih komoditas yang tahan terhadap cuaca tertentu, hingga mengurangi potensi kerugian akibat musim yang tidak menentu.
“Kami berharap Karawang juga bisa membentuk PPTPI seperti di Sumedang. Ini penting supaya petani memiliki tempat belajar terkait iklim, cuaca, dan pertanian modern. Jadi petani tidak hanya mengandalkan kebiasaan lama, tapi juga memakai data dan prediksi,” tambahnya.
Selama lima hari mengikuti pelatihan di Balai Pelatihan Ketahanan Pangan dan Hortikultura Cianjur, para peserta mendapatkan berbagai materi penting mulai dari pengelolaan irigasi, pengendalian hama, hingga teknik mendeteksi perubahan iklim untuk beberapa bulan mendatang.
Menariknya, alat yang digunakan dalam metode pengamatan iklim tersebut cukup sederhana. Dengan perangkat kecil berukuran sekitar 4 inci dan panjang 22 sentimeter yang dipasang sekitar 1,5 meter dari permukaan tanah, petani sudah dapat melakukan pemantauan kondisi cuaca di wilayah pertanian.
Ketua PPTPI Sumedang, Bapak Nandang SP, berharap ilmu yang diperoleh peserta tidak berhenti di ruang pelatihan saja, tetapi benar-benar diterapkan di daerah masing-masing.
Semangat petani muda Karawang ini menjadi gambaran bahwa sektor pertanian mulai bergerak menuju era modern berbasis teknologi dan adaptasi iklim. Dengan hadirnya petani cerdas iklim, diharapkan ketahanan pangan daerah dapat semakin kuat di tengah tantangan perubahan cuaca global yang terus berkembang.
Petani Muda Karawang Dorong Pembentukan PPTPI untuk Hadapi Perubahan Iklim
Catatan Redaksi: Artikel ini dipublikasikan secara otomatis dan dapat mengalami pembaruan.






