KARAWANG — Upaya regenerasi petani muda di Indonesia terus menunjukkan perkembangan positif. Dua petani milenial asal Kabupaten Karawang, Jawa Barat, mengikuti pelatihan petani cerdas iklim yang diselenggarakan di Balai Pelatihan Tani Hortikultura Provinsi Jawa Barat sebagai bagian dari penguatan kapasitas sumber daya manusia di sektor pertanian modern.
Pelatihan tersebut menitikberatkan pada adaptasi pertanian terhadap perubahan iklim, pengelolaan lahan berkelanjutan, hingga praktik budidaya padi yang efektif dan efisien. Pada hari kedua kegiatan, peserta langsung diterjunkan ke area persawahan untuk mengikuti praktik penanaman padi secara langsung.
Dalam sesi lapangan, peserta mendapat pendampingan dari Edi Kusmana yang memberikan materi mengenai teknik penanaman padi, pengolahan tanah, hingga strategi meningkatkan produktivitas pertanian di tengah perubahan cuaca yang semakin dinamis.
Menurut pemateri, keberhasilan budidaya padi ditentukan oleh tiga faktor utama, yakni kualitas varietas atau benih, sistem pengelolaan budidaya, serta kondisi lingkungan dan iklim. Ketiga aspek tersebut dinilai menjadi pondasi penting dalam membangun pertanian modern yang produktif dan tahan terhadap risiko perubahan cuaca ekstrem.
“Petani saat ini harus mampu menyesuaikan varietas dengan kondisi iklim yang terus berubah. Dunia pertanian berkembang sangat cepat dan petani dituntut terus belajar,” ujar Edi dalam sesi pelatihan.
Salah satu peserta asal Karawang, Nur, mengaku pelatihan tersebut membuka wawasan baru terkait sistem pertanian berbasis iklim. Meski saat ini dirinya fokus mengembangkan budidaya hortikultura, ia menilai pertanian padi tetap memiliki prospek besar apabila dikelola dengan pendekatan modern.
“Ini pengalaman baru bagi saya. Ternyata pertanian bukan hanya soal menanam, tetapi juga memahami iklim, pengelolaan lahan, dan teknologi. Semoga ilmu ini bisa diterapkan di Karawang,” katanya.
Kehadiran petani muda dalam pelatihan tersebut dinilai menjadi angin segar bagi sektor pertanian nasional, khususnya di daerah lumbung pangan seperti Karawang. Selama ini, sebagian besar generasi muda lebih tertarik bekerja di sektor industri dibandingkan pertanian.
Padahal, di tengah tantangan ketahanan pangan dan perubahan iklim global, regenerasi petani menjadi kebutuhan mendesak. Keterlibatan anak muda di sektor pertanian diyakini mampu menghadirkan inovasi baru, termasuk penerapan smart farming dan teknologi digital dalam sistem budidaya.
Dengan meningkatnya partisipasi generasi muda, sektor pertanian diharapkan tidak lagi dipandang sebagai pekerjaan tradisional, melainkan sebagai bidang strategis yang memiliki peluang ekonomi besar dan berkontribusi langsung terhadap ketahanan pangan nasional.
Semangat petani milenial dari Karawang ini diharapkan mampu menjadi inspirasi bagi daerah lain dalam mencetak generasi petani modern yang adaptif, inovatif, dan siap menghadapi tantangan pertanian masa depan.
Petani Milenial Karawang Ikuti Pelatihan Cerdas Iklim di BAPELTA Cianjur, Dorong Regenerasi Pertanian Modern
Catatan Redaksi: Artikel ini dipublikasikan secara otomatis dan dapat mengalami pembaruan.






