Oleh: Dr. Yosminaldi, SH., MM. (Pemerhati Politik Internasional dan Pecinta Perdamaian Dunia)
“Setiap peperangan akan tercatat dalam sejarah. Dan mungkin perjuangan menjaga perdamaian ini akan dilupakan sejarah, tapi itu jauh lebih baik dari sebuah peperangan yang diingat sejarah.” Anonim
Donald Trump, Presiden AS ke 45 & 47 itu kembali membuat heboh dan kegaduhan Internasional. Bukan Trump namanya, jika dia tak membuat keputusan2 kontroversial & mengejutkan yang membuat dunia internasional gonjang-ganjing.
Terkini, dia menculik Presiden Venezuela Nicolas Maduro setelah beberapa kali memberikan ancaman2 bak seorang Preman “Debt Collector” ke Debitur yang lalai memenuhi kewajiban pembayaran hutang cicilan.
Trump yang berkarakter arogan dan egois ini, tak menggubris himbauan dan kritik keras negara2 lain, PBB bahkan sekutunya di NATO.
Venezuela sebagai negara berdaulat, merdeka dan mandiri, dihajar Trump dengan mengerahkan sejumlah pesawat dan peralatan militer canggih guna menangkap Maduro dan Isteri untuk dibawa ke Washington, selanjutnya diadili dengan mengikuti sistem dan aturan hukum Amerika Serikat.
Kecaman2 pedas negara2 sekutu dan PBB tak dia hiraukan, bahkan Trump mengancam untuk keluar dari 66 organisasi PBB – hal inipun sudah dia putuskan dan langsung dilaksanakan. Hukum Internasional dan Piagam PBB sebagai pedoman dan aturan dalam hubungan Internasional, dilecehkan Trump. Dia bahkan mengatakan, hukum yang berlaku adalah keputusan dia sebagai Presiden AS dan itu menjadi hukum AS dalam berhubungan dengan negara lain.
Setelah Maduro ditangkap, Trump mengintimidasi Kuba, Kolombia, Mexico dan Kanada. Bahkan Trump berencana akan mencaplok “Greenland” dan mengancam akan menyerang Iran. Luar biasa! AS dibawah kepemimpinan Donald Trump telah berubah wujud mejadi Serigala berwujud Singa buas dalam aturan “hukum rimba” yang siap menangkap dan mencabik-cabik negara manapun yang berani melawan AS.
Konsep Trump pada kampanye Pilpres untuk meraih jabatan Presiden keduanya yang berjudul “Make America Great Again”, ternyata bukan perbaikan dan konsolidasi internal untuk menjadi lebih baik dan lebih hebat, namun sebuah paradigma yang lebih berfokus kepada “outward looking” yang siap menerkam negara manapun, sepanjang memenuhi kepentingan dan kebutuhan AS!
GAYA KEPEMIMPINAN & HOROR ANCAMAN PD III
Gaya Kepemimpinan, memainkan peran penting sebagai penyebab atau pemicu Perang Dunia I dan II yang lalu. PD I terjadi, melalui keputusan arogan Pemimpin seperti Kaisar Austria-Hongaria dan Hitler yang didorong oleh nasionalisme ekstrem, ekspansionisme, serta kegagalan diplomasi.
Demikian pula dengan gaya kepemimpinan Adolf Hitler yang ideologinya fasis dan ekspansionis, serta janji untuk memulihkan kejayaan Jerman setelah PD I, secara langsung mendorong agresi militer (invasi Polandia) yang memicu PD II.
Berikutnya dengan gaya kepemimpinan Mussolini yang fasis dan kaum militeris Jepang yang memiliki ambisi imperialis untuk memperluas wilayah, mengarah pada invasi Tiongkok dan penciptaan Blok Poros Barat – Timur yang pada akhirnya memicu terjadinya PD II.
Belajar dari dua kejadian pemicu (trigger) PD I dan II diatas, keputusan dan kebijakan para pemimpin nasionalis dan otoriter pada saat itu sangatlah menentukan pecahnya kedua perang dunia yang memakan korban jiwa dan kerusakan luar biasa tersebut.
Para pemimpin2 dunia tersebut, baik secara langsung (Hitler) maupun melalui kegagalan diplomasi (Austria-Hongaria di PD I), memanfaatkan atau memperburuk situasi politik untuk mengobarkan perang besar. Mengacu kepada pengalaman sejarah buruk dunia yang telah memporak-porandakan tata kehidupan internasional yang sudah dibangun dengan susah payah, namun dihancurkan oleh keputusan2 agresif, ekspansionis & arogansi Pemimpin negara2 besar, bukan tak mungkin umat manusia sekarang, kembali akan “terjun bebas” memasuki jurang perseteruan dan konflik buas yang bisa memicu PD III yang efeknya akan jauh lebih mengerikan dibanding PD I & II.
Dampak dan risiko penggunaan senjata nuklir adalah sebuah horor sangat mengerikan yang harus dihindari secara optimal dan maksimal oleh setiap umat manusia, khususnya para Pemimpin dunia yang menginginkan perdamaian sejati bisa terwujud untuk jangka panjang.
Perang nuklir akan membawa konsekuensi bencana yang meluas dan mematikan bagi manusia, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang dan sangat berpotensi menewaskan miliaran jiwa dan mengancam kelangsungan hidup peradaban umat manusia sedunia.
Dampak kematian massal, akan langsung membunuh ratusan ribu hingga jutaan orang melalui gelombang panas, ledakan fisik, dan radiasi awal. Diperkirakan, lebih dari 5 miliar jiwa bisa menjadi korban dalam skenario perang nuklir skala besar.
Korban yang selamat dari ledakan awal akan menderita luka bakar parah, kebutaan, tuli, dan cedera fisik akibat keruntuhan bangunan.
Paparan radiasi tingkat tinggi dalam waktu singkat menyebabkan penyakit radiasi akut, dengan gejala seperti mual, muntah, kejang, dan seringkali berakhir dengan kematian.
Belum lagi sistem kesehatan, komunikasi, transportasi, dan pasokan air bersih akan lumpuh total, menghambat upaya penyelamatan dan bantuan medis.
Menurut International Atomic Energy Agency (IAEA), dampak jangka panjang musim dingin Nuklir (Nuclear Winter), Jelaga dan asap dari kebakaran besar pasca-ledakan akan menghalangi sinar matahari mencapai bumi, menyebabkan penurunan suhu drastis secara global.
Selanjutnya, krisis pangan dan kelaparan massal. Penurunan suhu dan terhalangnya sinar matahari akan mematikan tanaman pangan utama seperti jagung, beras, dan singkong, menyebabkan gagal panen skala luas dan kekurangan makanan parah di seluruh dunia.
Terkait kesehatan, paparan radiasi jangka panjang meningkatkan risiko kanker, penuaan dini, gangguan sistem saraf dan reproduksi, serta mutasi genetik yang dapat memengaruhi generasi mendatang.
Belum lagi kerusakan ekologis yang mengakibatkan kontaminasi radioaktif, akan mencemari tanah, air, dan udara selama puluhan, bahkan ratusan tahun, membuat lingkungan tidak aman untuk ditinggali.
Dan, yang paling mengerikan adalah kerusakan lapisan Ozon yang berakibatb radiasi yang merusak lapisan ozon meningkat, merusak DNA, menghambat fotosintesis tanaman, dan menyebabkan stres tambahan bagi makhluk hidup.
Secara keseluruhan, perang nuklir akan menjadi bencana kemanusiaan yang dahsyat dengan konsekuensi yang tak tertanggungkan bagi kehidupan di Bumi.
Menurut studi terbaru, apabila perang nuklir benar-benar berlangsung, maka korbannya bisa mencapai lebih dari 5 miliar jiwa.
Maka dari itu, keputusan2 dan tindakan gegabah dan ceroboh Donald Trump yang berpikiran sebagai “Polisi Dunia”, Penguasa tunggal dan arogansi yang tanpa kontrol, akan berpengaruh signifikan kepada rusaknya tatanan perdamaian dunia yg sudah dibangun dengan susah-payah.
AS lupa, bahwa polarisasi kekuatan “super power” tak lagi bipolar seperti era Uni Soviet – AS, tapi sudah makin merata dengan munculnya kekuatan militer besar China, Iran, Korut dan sejumlah negara yang diam2 memproduksi senjata nuklir untuk kepentingan pertahanan maupun untuk menyerang pihak lawan.
Kesalahan atau tindakan “main api” Donald Trump yang tak menghiraukan dan tak mematuhi hukum internasional dan piagam PBB, sejatinya tak akan menguntungkan AS, namun akan menghancurkan semua yang sudah dibangun oleh umat manusia. Peperangan tak akan membuat adanya pihak yang menang, namun menjadikan semuanya akan menjadi arang!
Bekasi, 12 Januari 2026






